Happiness Is Not A Thing

Happiness Is Not A Thing, But It Is A Feeling.

 

Memang benar,

Manusia melihat kebahagiaan

Di tiap keindahan.

Bagi mereka yang hanya kuli kebun,

Mungkin mereka mengira bahwa orang-orang yang berkendara di balik mobil mewah itu bahagia.

Pun office boy,

Mereka mungkin mengira karyawan di kantornya sangat bahagia.

Begitupula para pekerja

Yang sehari hari makan di warteg, atau rumah mereka masing-masing.

Mereka mengira makan di tempat mewah dengan harga mahal

Pasti sangat nikmat rasanya.

 

Sebaliknya,

Orang-orang bermobil itu ternyata

Menemukan keindahan di tiap ulasan senyum penjual di pasar.

Yang tertawa ditengah serakan sampah daun,

Dan bau keringat mereka.

Karyawan-karyawan itupun menemukan kebahagiaan di mata teman-temannya yang sederhana,

Yang dipenuhi oleh kebahagiaan-kebahagiaan lain,

Selain materi.

Begitupula dengan orang-orang yang sudah mencicipi bagaimana rasanya makan di tempat mewah.

Ternyata menurut mereka,

Lebih nikmat makan di rumah mereka masing-masing,

Atau di warung sederhana dengan penjual yang ramah.

 

Memang benar,

Mungkin banyak yang menemukan bahagia dibalik gadget mewah ataupun perhiasan.

Tapi itu semu.

Hanya bahagia yang sekejap waktu.

Lalu akan berubah menjadi rasa yang biasa saja.

 

Tuhan…

Bawalah kami pada kebahagiaan kami masing-masing.

Karna Engkau tahu bahwa kebahagiaan tiap individu itu berbeda-beda.

Buatlah kami mengerti atas hikmah setiap kejadian yang kami lalui,

Dan beri kami kekuatan, kemudahan,  serta kesabaran untuk menghadapinya.

 

Tuhan,

Aku akan berusaha mensyukuri setiap kehendakmu

Yang terjadi diluar kuasaku.

Tapi tidak salah kan bila aku berusaha memilih jalanku sendiri?

 

Terakhir,

Terimakasih atas segala anugerah Mu.

Keluarga, sahabat, guru, dan teman-teman.

Maafkan aku yang masih bersikap tak menentu.

Bergantung pada keseimbangan lingkungan dan diriku.

 

Tapi yang aku tau,

Happiness is not a thing,

But it is a feeling.

 

 Created by Atika Dian Pitaloka 140613 07:43 PM

Continue Reading

Sahabat sahabat ku

Saat sudah berpisah,
Terasa benar apa artinya ketulusan,
Rasa sayang, dan
Kebersamaan..
Di perjalanan ini aku merindukan kalian.
Diantara musik yg mengalun,
Dan cahaya yg masuk lewat celah kaca mobil.
Apakah kalian merasakan hal yg sama?
Aku rindu saat saat itu..
Saat bermain di Amazone,
Mengumpulkan tiket,
Dan menukar hadiah berupa stiker,
Setelah aku selesai bimbingan di Tangerang.
Aku pun rindu saat kita ke museum BI,
Dan foto foto diantara smua ornamen nya.
Rindu Saat belajar bersama..
Di mc.d..
Atau dikamar kalian..
Waktu teringat saat kita karaoke bareng
Dan nonton bareng
Just make me so blue..
Juga canda di angkutan umum dan busway,
Memiliki keindahan tersendiri untukku.
Semangat semangat yg kalian miliki,
Menginspirasi.
That’s why i always wanna be together with u all.
I miss u all.
🙂

Continue Reading

Aku yang Setitik

Aku hanyalah secercah cahaya
Diantara jutaan benderang
Aku hanyalah titik kecil
Diantara ribuan garis
Aku hanyalah sepotong kehidupan
Diantara jalan yg panjang
Aku hanyalah seorang manusia
Diantara jutaan lainnya.
Aku tak terlihat,
Aku begitu kecil,
Dan tersembunyi…
Aku dalam selimut ketidakberdayaan,
Aku lemah,
Aku bukan siapa-siapa…
Hanya karna kasih-Mu lah aku tak sendiri,
Hanya karna kasih-Mu lah aku memiliki arti,
Dan karna kasih-Mu lah aku bersujud penuh syukur
Terimakasih Kau melihatku yg setitik ini.
Created by: Atika Dian Pitaloka
070113
08:22 am

Continue Reading

Selamat Jalan, Eyangku sayang

Aku teringat padamu
dan hari-hari yang kita lalui bersama
tanganmu menggenggam lembut jemari kecilku
menuntunku menaiki bukit
dan melihat gemerlapnya lampu saat fajar tiba
Aku merindukanmu
dan masa-masa indah kita,
dimana kau sempatkan dirimu bermain petak umpet denganku
sekalipun kau sibuk memeriksa hasil ujian mahasiswa/i mu.
Dulu,
aku tak pernah mengerti akan hal itu.
Bukti cintamu.
Aku ingin pulang kerumahmu seperti dulu
kau menyambutku
memelukku
menciumku.
Aku teringat saat engkau sakit,
dan berobat di rumah sakit akupuntur.
Dimana aku mengigau membaca doa2 untukmu,
lalu kau ceritakan itu ke semua saudara dan teman yg mengunjungimu,
betapa cucu mu mencintaimu begitu dalam
hingga mendoakanmu dalam ketidaksadaran.
Sesungguhnya semua terjadi karena cinta yg telah engkau berikan padaku demikian besar.
Aku teringat suatu malam dimana aku memimpikanmu.
Engkau tertidur.
Di ruangan terang berbataskan kaca.
di sebuah rumah yg sangat besar dengan banyak jendela dan cahaya.
dan orang orang berbaju hitam berkeliling.
Malam yang sama,
mimpi yg sama,
dengan apa yg dialami kakakku.
Pagi itu, aku takut sekali akan kehilanganmu.
Aku teringat saat kau koma,
dan aku datang di dini hari yg gelap.
Kau berkata: “sun sing suwe”.
Haru. Sedih. Melihat tulang yang seakan hanya terbungkus kulit.
dimana dagingmu? Aku tak bisa lagi memanggil “Eyang gendut”.
Aku teringat saat aku berpamitan pulang,
kau berkata “ditunggu sik”.
Padahal kau ijinkan cucumu yg lain pulang.
Esoknya, kau muntah darah beku.
Lusanya, kau pergi meninggalkanku.
Berita itu seperti petir di pagi hari yg cerah.
Rumahmu wangi bunga kantil kesukaanmu.
Sekalipun saat aku lihat, pohonnya sedang tak berbunga.
Mungkin mereka pun sedih akan kepergianmu.
Satu bulan berlalu sejak mimpi itu,
dan kau pun pergi selamanya.
Selamat jalan Eyang Kakong tercinta,
rasa sakitmu telah usai,
aku yakin kehidupan mu saat ini seterang mimpiku,
rumahmu disana seindah rumahmu dalam mimpiku,
semua lebih baik dari yg kau dapat di dunia.
Aku sayang Eyang. Sayang sekali.
Created by: Atika dian pitaloka 3:05pm 6 dec 2011

Continue Reading

Karena Hidup adalah Nikmat

Assalam wr wb.
Good night all. Malam ini saya terbangun sekitar pukul 11 malam. Saya lalu merasakan kerinduan yg amat sangat. Rindu akan apa? Lelaki? Oh no,no! Bukan itu. Tapi kerinduan akan masa-masa kuliah saya di departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Departemen ini merupakan pilihan saya. Saya memilihnya hanya karena “saya menyukai tanaman dan keindahan”. Saat SMA, tak terbersit sedikitpun bayangan akan praktikum lapang yang sangat melelahkan. Benar-benar tidak terbayang. 😀 *kalau terbayang mungkin akan pikir 2 kali. Haha :p
But I really sure that Allah always gives us the best. And I thank to God for giving me chance to study in this departement. 🙂
Di departemen ini saya mendapatkan teman-teman yg dari merekalah saya harus banyak belajar tentang hidup dan mensyukurinya. Belajar untuk tak menyerah. Belajar untuk menjadi wanita tangguh. Belajar untuk tepat waktu, karena dosen-dosen di AGH sangat on time. And I proud for that!
Berpikir akan itu semua, membuat hati saya tergerak untuk mengupdate status di facebook. Jari-jari saya pun mulai menari. Dan inilah kata-kata buah kerinduan saya:
sudah lama tak memakai sepatu boot, sudah lama tak mandi keringat di lahan,
sudah lama tak bercanda bersama teman-teman saat di lapang,
sudah lama tak kotor oleh tanah di lahan sawit,
sudah lama tak mengangkat sekeranjang penuh sayuran,
sudah lama tak berjualan kangkung organik, aah I miss that moment..
:'(
Karena hidup setiap harinya merupakan nikmat yg luar biasa.
Pun saat kita sangat kelelahan.
Suatu saat kita pasti akan merindukan kelelahan-kelelahan tersebut. Perjuangan-perjuangan tersebut. So,don’t wait till tomorrow to enjoy this life. Apapun yg harus dihadapi, nikmatilah. 🙂
Salam hangat,
Atika Dian Pitaloka
(Love u all as always)

Continue Reading

maka nikmat Rabb kamu yg manakah yg kamu dustakan?

Ya Allah ku,
Ampunilah aku
yang terkadang lalai dalam syukur kepada-Mu
Betapa banyak nikmat Mu hingga air di lautan pun takkan pernah cukup untuk mencatatkannya.
Betapa sempurna Engkau menciptakan aku.
Dengan bentuk mata ku, hidung ku, bibirku, tanganku, jari ku, kaki ku, telinga ku..
Warna kulit ku..
Tak perduli apa yg manusia katakan akan bentuk tubuh ku dan warna kulit ku.
Aku tau itulah bentuk terindah yg telah Engkau titipkan untukku.
Ya Tuhan seandainya saja aku buta,atau cacat, mungkinkah aku masih dapat bersyukur seperti ini pada Mu?
Mungkin Engkau tahu bahwa aku tak kan sanggup untuk itu, karenanya Engkau memberiku bentuk yg sempurna.
Terimakasih Allah
Maafkan aku bila aku pernah menginginkan rupa lain, itu sungguh suatu kebodohan dan kekerdilan pemikiranku.
Ya Allah, Engkau telah memberi aku keluarga yang utuh.
Jikalaupun ada masalah, itulah namanya keluarga, pasti memiliki masalah.
Namun keluarga pulalah tempat kita kembali.
Engkau beri aku orangtua yang bertanggungjawab.
Mampu membiayai pendidikanku.
Dimana pada saat yg bersamaan banyak temanku yg tak dapat melanjutkan pendidikannya.
Terimakasih atas kecukupan rizqi dari Mu.
Tuhan,kami mungkin tidak kaya,
Tetapi kami berusaha slalu memiliki kekayaan hati untuk membantu sesama.
Dan mensyukuri nikmat Mu.
Yang jika aku berusaha menghitungnya,
Niscaya aku tidak akan pernah sanggup menghitung nikmat dari Mu.
Engkau telah sempurnakan nikmat Mu kepada Ku lahir dan bathin.
Wahai manusia,
Bukankah Allah telah berkata
Bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah melihat kepada bentuk dan rupa kita. Tapi Allah melihat pada amalan-amalan kita.
Maka nikmat Tuhan yang manakah yg akan kamu dustakan?
(˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)
Written by: Atika Dian Pitaloka
10 Juli 2011
09:27 WIB

Continue Reading

Autumn Song

Puisi ini merupakan kutipan dari puisi “Autumn Song” karya Paul Verlaine diambil dari Wikipedia. Judul asli puisi ini adalah “Chanson d’automne”,yang terbit pada tahun 1866. Terjemahan bahasa Indonesia oleh Iwan Setyawan.
Puisi ini mengingatkan kita pada kehidupan. Bahwa kehidupan terkadang membawa kita pada situasi-situasi tertentu, dan bertemu dengan orang-orang tertentu. Hidup adalah misteri. Itu yang selalu dikatakan banyak orang. And that’s damn true. Life is a mistery. We never know our next journey even if we had plan for that.
Dan aku berkelana..
Bersama empasan angin..
Yang membawaku kesana kemari..
Seperti sebuah daun kering.
Daun yang jatuh, tidak pernah membenci angin.
Kita,manusia, seperti daun tersebut. Dan angin adalah aspek aspek kehidupan yang mempengaruhi kita. Baik yang kita mempunyai andil di dalamnya ataupun tidak. Tuhan lah yang slalu menjadi Tuan yang berkehendak atas kita selamanya. Manusia hanya bisa berusaha, berdoa, dan bertawakkal. Sementara hasil akhir dari usaha kita, kita serahkan pada Allah. Segala keputusan-Nya adalah yang terbaik bagi kita. Hanya terkadang kita terlalu kerdil untuk dapat memahami hikmah dari tiap kejadian.
Written by Atika Dian Pitaloka
10 Juli 2011
08:52 WIB

Continue Reading